Kamis, 18 Oktober 2012

1001 Cara untuk jadi Franchisee Sukses

Ibarat mencari jodoh, tak ada rumus baku untuk jadi franchisee (pembeli franchise) sukses. Mungkin Anda bisa meniru cara franchisee lain memilih suatu franchise dan Anda pun ikut sukses. Tapi Anda juga bisa gagal gara-gara tak cocok dengan pribadi franchisor-nya.

Pengalaman dari seorang franchisee yang sukses pun bisa berbeda. Ia mungkin sukses mengembangkan gerai franchise di suatu tempat, namun ketika mendirikan gerai di tempat lain dari franchise yang sama bisa saja gagal. Karena itu ada seribu satu cara untuk jadi franchisee sukses dan sebanyak itu pula peluang Anda untuk terpeleset. Poin dari semua ini adalah dengan membeli franchise (menjadi franchisee) bukan berarti Anda tinggal menunggu untung. Ada banyak tahapan usaha yang harus dilakukan. Anda harus jeli melihat peluang, rajin melakukan penjajagan, tak segan bertanya pada franchisee lain yang sukses, dan tahu daya serap pasar di tempat yang sedang diincar. Jika punya kesempatan dan diijinkan franchisor, lakukan inovasi. Kondisi ini menjadikan memburu franchise jadi sesuatu yang menarik.

Memburu Franchise Baru
Ada kelompok orang yang suka memburu franchise baru. Mungkin pola kerjasama bisnis yang diburunya masih belum masuk kategori franchise. Menurut istilah Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) konsepnya masih business opportunity (BO), konsep bisnis model franchise yang masih prematur, tapi jika dikembangkan sedikit lagi akan menjadi franchise. Bisa juga bentuk kemitraan lain yang punya potensi dikembangkan menjadi franchise.

Menurut mereka, dengan membeli pola kerjasama model begini, punya peluang untuk ikut memberikan saran dan memasukkan gagasan-gagasannya menjadi konsep franchise di jaringan tersebut. Tak tertutup kemungkinan kerjasama dirinya dengan franchisor meningkat lagi menjadi pemegang saham franchisor-nya (perusahaan yang mengembangkan franchise), atau lebih jauh lagi.

Tengok pengalaman Budi Utoyo. Budi yang kini punya jaringan franchise Spa Leha-Leha itu semula menjadi franchisee C’lup-C’lup, jaringan gerai makanan hasil laut yang cara memakannya dengan mencelupkan makanan tersebut ke kuah khusus (dicelupkan). Franchise ini dikembangkan Fen Saparita dan kawan-kawan di Yogyakarta. Kebetulan antara Fen dan Budi pernah sama-sama ikut Entrepreneur University milik Purdi E. Chandra. Budi jadi master franchise C’lup-C’lup untuk daerah pengembangan Bekasi dan sekitarnya.

Ternyata C’lup-C’lup di Yogyakarta kurang berkembang. Budi berinisiatif mengambilalih perusahaan yang jadi franchisor-nya di Yogyakarta dan memindahkan base-camp-nya ke ke Bekasi mulai tahun 2004. Sejak itulah Budi menjadi franchisor C’lup-C’lup. Sekarang ia menawarkan franchise C’lup-C’lup dengan paket investasi sebesar Rp 21,6 jutaan. Dari upayanya itu gerai C’lup-C’lup sekarang berkembang menjadi 34 gerai.

Sukses itu malah membuat Budi terinspirasi mengembangkan franchise makanan jenis lain. “Sekarang saya mengembangkan dua lagi gerai makanan yaitu Baso Presiden dan Ayam Goreng Tulang Lunak Solo. Keduanya masing-masing baru memiliki lima gerai,” kata Budi. Dengan menambah dua gerai ini Budi kini memiliki empat franchise dengan kisaran besar investasi awal mulai puluhan juta rupiah (C’lup-C’lup dan Baso Presiden), seratusan juta rupiah (Ayam Goreng Tulang Lunak Solo), dan delapan ratusan juta rupiah (Spa Leha-Leha).

Ada juga yang memilih franchise baru karena alasan banyak diskon. Franchise baru umumnya memang ditawarkan dengan sejumlah diskon, termasuk tak memungut franchise fee pada tahun pertamanya. Malah ada juga yang tak memungut royalty fee selama tahun pertamanya. Sedangkan bahan atau alat pendukung lain masih bisa diperoleh sendiri. Umumnya mereka menganggap dengan mencari bahan atau alat pendukung sendiri biaya investasinya bisa ditekan.

Yanti Isa yang sukses mengembangkan gerai ayam goreng Red Crispy menjadi 650 gerai sekarang, mencoba menawarkan gerai sejenis dengan target pasar yang berbeda dengan nama MagFood Amazy mulai Juli 2007. “Konsep Amazy berbeda dengan Red Crispy. Amazy diposisikan untuk kelas menengah dengan target pasar para ABG (anak baru gede),” kata Yanti. Franchise Amazy ditawarkan dengan paket investasi mulai dari Rp 25 juta hingga Rp 163,5 juta. Konsep gerainya mulai dari yang berbentuk booth sampai kafe. “Untuk tahun pertama ini kami tidak memungut franchise fee dulu. Ini karena Amazy masih baru,” kata Yanti. Hingga Agustus 2007 lalu Yanti sudah memiliki 10 gerai.

Memang belum ada franchisee-nya yang balik modal. Tetapi jika trennya bisa menghasilkan omset Rp 470  ribu sehari untuk paket investasi Rp 25 juta, balik modal bisa dicapai dalam tempo 11 bulan. Sekarang, katanya, malah sudah ada yang memiliki omset Rp 500 ribuan sehari.

Terobosan Pasar Para Franchisee
Kunci sukses untuk meraih omset besar itu, kata Yanti, karena franchisee-nya kreatif mencari pasar. Tak hanya menunggu gerai. Pengalaman dari mengelola Red Crispy menunjukkan itu. Franchisee yang rajin mencari pasar di luar jangkauan gerainya bisa meningkatkan omsetnya. Misalnya, memasok ayam goreng ke tempat hajatan atau tempat lain seperti kantor dan lain sebagainya.

Terobosan pasar juga dilakukan oleh franchise gerai pisang goreng Ta B’Nana di Roxy, Jakarta Pusat. Menempati gerai yang berada di tempat sempit dan terhimpit pertokoan serta jalanan di depan macet tak menyempitkan akal pemiliknya. Justru itu memancing inovasi Rudi,  franchisee Ta B’Nana itu, untuk jemput bola. Ia mengaku tertarik ke Ta B’Nana karena selain pisang gorengnya enak franchisor-nya juga enak diajak diskusi. Pada awalnya ia menjual pisang goreng seperti biasa, menunggu pembeli.

Namun setelah berjalan beberapa bulan Rudi mencoba hal baru yang idenya berasal dari pengamatannya melihat kemacetan di depan gerainya yang terjadi setiap hari. “Saya meminta pegawai saya menawarkan pisang goreng dari mobil ke mobil,” kata Rudi. Caranya, si pegawai menghampiri mobil-mobil yang terjebak macet sambil membawa kertas pesanan pisang goreng Ta B’Nana. Begitu pesanan diterima ia berlari mengambil pisang goreng sesuai jumlah pesanan yang diterimanya. Penjajaan model begini dilakukan mulai sekitar jam 17.00,  jam di mana kemacetan dimulai.

Cara jemput bola seperti itu ternyata berhasil mendongkrak jumlah penjualannya. Menurut Rudi, balik modal dia lebih cepat satu bulan dibanding yang ditargetkan Ery Ashok, pendiri Ta B’Nana (franchisor-nya). Ery sendiri mengaku terkesan dengan cara memasarkan pisang goreng Ta B’Nana model Rudi.  “Saya sedang mempelajari bagaimana ia bisa sukses seperti itu,” cerita Ery lagi.

Tetapi tak semua upaya franchisee mulus dengan inovasinya. A. Baidillah Thariq mengambil franchise Senyumuslim pada tahun 2005. Saat itu lelaki muda yang akrab dipanggil Barra ini membeli ruko tiga lantai di kawasan Ruko Kalimanis, Bekasi Timur. Ketika ditanya DUIT! tahun 2006 lalu ia menyebut mengambil franchise Senyumuslim karena ingin memanfaatkan rukonya tersebut. Investasi keseluruhan, termasuk beli toko dan mengambil franchise Senyumuslim, menurut pengakuannya, mencapai Rp 600 juta, jelas itu bukan investasi kecil. Namun ia yakin bisnis Senyumuslim akan berkembang, terlebih-lebih di Bekasi Timur yang, menurut dia, daerahnya cocok untuk perkembangan bisnis keperluan kaum Muslim.

Barra optimistis gerai Senyumuslim-nya akan berkembang pesat. Untuk menambah kekuatan positioning-nya ia menamakan gerai Senyumuslim-nya sebagai Pusat Grosir dan Eceran Produk Islami. Untuk mendukung ini ia melakukan promosi sendiri yang lumayan gencar di Bekasi. Selain melakukan bedah buku Islam, ia juga bekerjasama dengan radio swasta di Bekasi untuk mempromosikan. Hasilnya? “Imej Senyumuslim di Bekasi sudah sangat baik sekarang,” katanya.

Namun upaya keras itu, ia menyebutkan, tak sesuai dengan ketersediaan barang-barang yang bisa dipasok franchisor-nya. “Terutama supporting product yang masih kurang, variasi produk masih kurang,” katanya. Ia memisalkan, tatkala orang berbondong-bondong ke gerainya karena promosi yang ia lakukan, jumlah produk yang bisa ditemukan tak begitu banyak. Dan ketika meminta tambahan variasi produk ke franchisor itu juga masih sulit terpenuhi. Seharusnya, kata dia, franchisor memperhatikan ini.

Sekarang, Barra sedang mengerem dulu promosi Senyumuslim-nya karena khawatir produk yang tersedia tak sesuai dengan harapan pasar. Ia memperkirakan layanan franchisor yang menurutnya kurang itu karena gerai Senyumuslim sudah terlalu banyak saat ini. Akibat mengerem berpromosi itu omset Senyumuslim Barra jadi agak turun. Ketika pertama kali mengelola Senyumuslim omsetnya bisa mencapai Rp 30 juta sampai Rp 40 juta sebulan. “Sekarang di bawah itu,” ungkapnya.

Sodik Amin, franchisor dan pendiri Senyumuslim, mengakui penurunan omset gerai milik Barra itu. Namun itu karena masalah administrasi, katanya. Sedangkan mengenai jumlah produk yang disediakan Senyumuslim, katanya lagi, saat ini sudah ribuan item produk. Menurut dia, bagi franchisee-nya yang penting harus aktif seperti melakukan bazar, bedah buku dan sebagainya. Untuk keperluan itu franchisor siap membantu. Jika itu dilakukan omsetnya bisa tinggi. Ia menyebutkan franchisee-nya di Bengkulu bisa membukukan omset antara Rp 2 juta sampai 4 juta sehari. “Jadi sebulan bisa mencapai Rp 100-an juta,” ujar Sodik.

Yang menarik Barra, yang selain jadi franchisee dari Senyumuslim juga jadi franchisee dari franchise lain, mengemukakan pandangannya mengenai franchise secara umum di Indonesia. Ada kecenderungan, katanya,  franchise yang belum matang sudah ditawarkan kepada umum. Parahnya lagi, banyak franchisor yang menggunakan gerai milik franchisee-nya sebagai bahan percobaan. “Seharusnya sistemnya matangkan dulu. Para franchisee itu kan umumnya mereka yang memiliki uang lebih. Harus diapakan uangnya itu? Melalui franchise mereka berharap uangnya bisa diinvestasikan tanpa perlu susah-susah mengelolanya,” tuturnya.

Pada dasarnya Barra yang juga mengelola usaha Event Organizer dan produksi batu bata di Kerawang, melihat franchise merupakan sistem yang menarik. Karena itu selain mengembangkan gerai Senyumuslim ia juga mengembangkan gerai lain. Gerai yang dimaksud adalah gerai rumah makan franchise bernama Clemont yang menawarkan steak ayam, dan lain-lain. Franchise rumah makan asal Bandung ini ia ambil beberapa waktu lalu dengan investasi Rp 40 juta setiap gerainya. Pertama kali ia membelinya dengan mendirikan gerai Clemond di Bekasi. Lalu ia mencari tempat lain yang dekat kampus. Ternyata gerai yang baru ini menghasilkan pendapatan lebih baik. Omsetnya rata-sarat Rp 1,5 juta sehari. Kini ia memiliki enam gerai Clemont.

Bagi sejumlah orang, mengambil suatu franchise memberi tantangan tersendiri.  Awalnya memang sulit, namun setelah mengetahui dan mengalami seluk-beluknya sukses pun bisa diraih. Begitu berhasil mengembangkan satu outlet umumnya ketagihan untuk menambah outlet franchise bersangkutan atau mengambil franchise lain. (Sumber: www.majalahduit.co.id/DEN)

Cara-cara Ampuh Bangun Bisnis Sukses

Marketing SME- Untuk membangun sebuah usaha perlu perencanaan yang matang.  Bukan hanya materi  saja yang kita siapkan tetapi ada beberapa yang harus kita pikirkan. Sehingga bisnis ini bisa berjalan dengan lancar. Memang diakui, untuk membangun suatu usaha atau bisnis itu tidak mudah. Perlu adanya kerja keras agar bisnis yang kita kelola bisa maju sesuai keinginan kita. Berikut ini, ada beberapa kiat sukses untuk  membangun usaha, mudah-mudahan bisa membantu Anda untuk bisa menjadi pengusaha yang sukses.
  1. Merencanakan yang matang
    Perencanaan itu sangat penting, baik usaha yang  kecil atau yang besar. Sehingg usaha tersebut tidak hanya mengambang begitu saja dan suatu saat kita bisa melihat kembali kerangka bisnis yang sudah dibuat. Rencana bisnis juga memudahkan kita jika ingin mengajukan pinjamaan ke bank. Pegawai bank akan bisa melihat prospek yang kita punya sehingga memudahkan kita memperoleh pinjaman. Di dalam rencana bisnis, ada tiga hal yang perlu kita catat yakni: Diskiripsi Bisnis, Target Konsumen, Bentuk Bisnis, Sumber Daya Manusia, Keuangan.
  2. Menyiapkan mental yang kuat
    Resiko membuka usaha lebih besar ketimbang menjadi karyawan suatu perusahaan, salah satunya risiko kehilangan seluruh modal yang investasikan. Karena itu kita harus  memerlukan mental yang kuat sebab bisnis kita memiliki kemungkinan untuk sukses besar, namun juga bisa gagal total. Walaupun begitu,keberhasilan tetap ada.
  3. Selalu selektif
    Ada begitu banyak ragam usaha yang bisa jalankan dan harus memilih satu untuk kita fokuskan. Untuk membantu membuat keputusan, kita bisa mencari peluang yang ada di pasar atau justru menciptakan pasar baru. Jika memilih untuk mencari peluang, maka kita harus tanggap memperhatikan apa yang masyarakat butuhkan. Contohnya, jika kita melihat banyaknya ibu yang terpaksa harus meninggalkan anaknya karena harus bekerja, maka kita bisa memanfaatkan peluang ini dengan membuka tempat penitipan anak. Atau  bisa membuat pasar sendiri dengan keahlian yang kita miliki. Mungkin kita ahli dalam masakan India dan sama sekali belum ada di pasar. Dengan pemasaran dan kualitas produk yang bagus, bisa menciptakan tren baru dan membuat pasar malah membutuhkan produk yang kita buat.
  4. Jeli melihat peluang di pasar
    Upayakan agar bisa menangkap sekecil apapun peluang yang ada dan gunakan perhitungan yang matang karena sebagai seorang pengusaha, harus cermat serta jeli melihat peluang-peluang di pasar.
  5. Cerdik menghadapi kompetitor
    Adanya pesaing adalah hambatan untuk berhasilnya suatu usaha. Karena itu, harus cerdik dalam menghadapai mereka. Cari perbedaan antara produk kita dengan produk mereka sehingga mempunyai nilai lebih (added value) jika dibandingkan dengan mereka. Misalnya, dalam usaha fotocopy kamu memberikan kupon undian pada pelanggan dengan pembayaran di atas Rp 50.000,- yang akan diundi setiap 6 bulan sekali.
  6. Menawarkan produk dengan sistem
    Kunci sukses untuk bisnis kamu adalah melalui teknik pemasaran. Sebagai tahap awal mungkin perlu ekstra usaha yakni mungkin dengan melakukan door-to-door menawarkan produk. Selanjutnya baru memasarkan produk dengan sistem imbalan dan seterusnya.
  7. Sering melakukan evaluasi
    Lanjutkan perkembangan usaha dengan memantapkannya. Langkah awal dalam menstabilkan usaha adalah dengan melakukan evaluasi. Evaluasi yang dilakukan secara teratur akan mempertahankan dan meningkatkan mutu usaha. Contohnya, kita bisa mencari feed back- dan memberikan penerangan kepada para karyawan setiap 3 bulan sekali.
  8. Belajar dari kegagalan
    Setiap usaha tidak akan pernah ada yang lepas dari mengalami kegagalan, karena memang kegagalan berjalan seiringan dengan keberhasilan. Proses ‘Jatuh’ dan ‘Bangun’ yakni masa laris tidak laris adalah sesuatu yang wajar. Asalkan ketika kita jatuh, jangan langsung patah semangat dan kemudian berpikir untuk menutup usaha alias gulung tikar, sebaliknya lakukan evalusi mungkin dengan mencari inspirasi untuk menciptakan produk dan jasa baru yang akan semakin menjadikan usaha kita menarik, membaca kiat sukses para wirausahawan (businessman) dan bagaimana cara mereka melewati masa-masa sulit, mencoba teknik pemasaran yang baru, dan harus terus Belajar.
  9. Selalu menjaga hubungan baik
    Berhubung usaha anda sangat besar dipengaruhi oleh konsumen, maka harus bisa menjaga hubungan tetap langgeng dengan mereka degan serius menanggapi saran dari mereka, memberi bingkisan hari raya, sekali-kali memberi diskon atau juga dengan hanya sekedar tersenyum ramah menyapa dan ngobrol dengan mereka.
Selamat mencoba.

7 Alasan Kenapa Perusahaan Anda Perlu Iklan Online di Cina


marketing.co.id- Lau Seng Yee, Presiden bisnis media online di portal internet Tencent, memberikan daftar yang cukup luar biasa. Dia memberikan alasan mengapa perusahaan harus merangkul media online dan ekosistem digital.
  1. Saat ini Cina memeliki 513 juta pengguna lebih
  2. Setiap hari sekitar 164.000 orang di Cina bergabung di internet
  3. Sekitar 1.3 miliar jam dihabiskan warga Cina untuk online setiap hari.
  4. Cina memiliki pengguna Android dan IOS lebih banyak daripada Amerika
  5. Sekitar  1,74 miliar RMB ($276 juta) dalam penjualan barang virtual di Cina pada tahun 2011.
  6. Orang-orang di Cina sangat serius dalam menggunakan media sosial.
  7. Sekitar 370.000 orang bermain mahjong online kapan saja.
Itu semua cukup mengesankan untuk sebuah Negara yang menurut Lau baru diperkenalkan telepon pertama kali 17 tahun silam. Cina memiliki tradisi Guanxi, yang diterjemahkan menjadi rantai koneksi. Walau secara umum kata tersebut disebut koneksi yang dilakukan orang secara pribadi, “internet telah melepaskan kekuatan guanxi”, kata Lau.  Hal Ini telah merumuskan kembali segala sesuatu yang kita tahu tentang sambungan, terangnya.

Hal ini juga telah mengubah dinamika sosial, konsumen sekarang raja, kata Lau. Tentu saja ada masalah yang muncul, karena tidak ada kebebasan berbicara atau transparansi di Cina. Awal bulan ini pemerintah sudah menutup 16 situs termasuk dua situs yang mirip Twitter dengan pengguna 250 juta pengguna lebih.

Menurut Dr, John A Quelch, professor of international management and dean of the China Europe International Business School, bagaimanapun juga kami telah memiliki ledakan aktivitas internet dalam kurun waktu lima sampai 10 tahun terakhir.
Sumber: BusinessInsider

Kunci Mengembangkan Bisnis Online

Dengan lebih dari 32 juta akun Facebook dan 6 juta akun Twitter, ditambah penetrasi internet yang mencapai 8,9% dari seluruh penduduk Indonesia—atau 45 juta user, merupakan peluang bagi pengembangan bisnis dan usaha lainnya pun terbuka lebar.

Transaksi online atau yang biasa disebut e-commerce di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru. “Era dotcom” yang melahirkan amazone.com maupun e-bay telah merevolusi cara belanja konvensional. Di Indonesia pun lahir beberapa situs belanja online yang cukup dikenal masyarakat, seperti bhineka.com, e-grossir, dan banyak model startup lainnya.

Pertumbuhan e-commerce setiap tahun dapat mencapai angka dua digit. Walaupun dunia diterjang oleh krisis finansial global, pertumbuhan transaksi—misalnya di dua situs terbesar seperti e-bay dan amazon.com—mencapai peningkatan hingga 31%. Di Indonesia perkembangan e-commerce ditandai dengan bertumbuhnya situs jual-beli ditambah dengan maraknya istilah startup yang dipakai oleh kaum muda di Indonesia untuk memulai bisnis berbasis internet.
 
Bila awal perkembangan e-commerce—misalnya amazone.com—dimulai dari penjualan buku, di Indonesia dimulai dengan penjualan komputer dan alat-alat elektronik. Pada tahun 2008, lebih dari 40% transaksi e-commerce ditujukan untuk reservasi pesawat terbang. Pada tahun 2011, transaksi didominasi oleh penjualan buku, diikuti dengan pakaian, sepatu, dan aksesori di peringkat kedua. Selanjutnya tiket pesawat dan reservasi, barang-barang elektronik, hingga software komputer.

Media internet di Indonesia menjadi pilihan seiring perkembangan social media, portal-portal elektronik, maupun komunitas. Orang melakukan pencarian melalui search engine atau juga mendapatkan rekomendasi dari rekan maupun komunitasnya.

Data Spire menunjukkan 90% orang mencari referensi/informasi melalui rekomendasi dari orang yang mereka kenal. Sementara sejumlah 10% merupakan opini atau testimoni mereka saja.

Dari data yang ditelusuri oleh Spire, dalam melakukan transaksi online, 40% merupakan rekomendasi dari rekan, teman, maupun komunitasnya. Hal ini disebabkan oleh literasi terhadap teknologi internet itu sendiri; semakin tinggi pengetahuan konsumen atas teknologi transaksi online, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan untuk bertransaksi. Lalu, diikuti dengan pencarian independen melalui search engine sebesar 38% dan 22% yang langsung menuliskan alamat URL-nya di browser.

Potensi transaksi online sangat besar, tahun lalu market size mencapai USD 3,6 miliar atau sekitar Rp 35 triliun—sebuah nilai transaksi yang menggiurkan. Namun, hal ini juga dibarengi dengan catatan tingkat kejahatan cyber yang cukup besar—misalnya penipuan hingga pembobolan kartu kredit (carding), phising, virus, dan lain-lain. Berdasar laporan dari Norton yang bertajuk “Human Impact”, sebanyak 86% pengguna internet pernah menjadi korban kejahatan cyber.
Dari kedua data Spire yang disajikan, ada korelasi antara rekomendasi dengan isu keamanan yang membuat rekomendasi menjadi cukup sensitif bagi pelaku transaksi online. Banyaknya penipuan dan rendahnya kepercayaan terhadap penjual (seller) membuat rekomendasi menjadi pilihan sebagian besar pelaku transaksi. Ditambah, usia pelaku transaksi yang mayoritas masih muda membuat mereka dapat dengan gampang berganti pilihan dan sangat mudah untuk dipengaruhi perorangan maupun kelompok (2/3 pelaku transaksi online merupakan kawula muda).
 
Dalam media pilihan bertransaksi, forum jual-beli Kaskus menjadi portal favorit. Sejumlah 73% mengakses Kaskus berdasarkan rekomendasi rekan atau teman. Situs Kaskus yang memiliki komunitas lebih dari 3 juta orang ini pun menjadi salah satu portal dengan traffic terbesar di Indonesia. Diikuti dengan Facebook yang walaupun memiliki angka pengguna yang tinggi, hanya 10% dari jumlah responden menentukan pilihan belanjanya di situs ini. Diikuti dengan egrossir.com, situs yang berdiri tahun 2004 tersebut mendapat traffic dan rekomendasi 4%. Dan 12% lainnya mengakses website lain atas rekomendasi orang lain.

Ke depan, e-commerce memiliki potensi yang sangat besar untuk digarap oleh pelaku bisnis mana pun. Transformasi belanja konvensional ke e-commerce memang membutuhkan waktu. Tentunya, infrastruktur perundang-undangan seperti pajak dan perlindungan hukum yang mulai diterapkan tahun ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan bisnis e-commerce.

Suatu situs e-commerce harus didukung dengan mutu perusahaan. Dalam hal ini bagaimana suatu situs membangun merek atau reputasi melalui kualitas produk atau jasa yang ditawarkannya. Faktor pendukung lain adalah website. Sebuah website harus memiliki ciri khas yang berbeda, ditambah dengan interface website yang harus friendly dan membantu konsumen dalam bertransaksi. Kredibilitas dalam setiap transaksi merupakan hal yang mutlak mengingat saat ini online shopping selalu dihantui hal-hal negatif mengenai risiko transaksi—seperti produk yang cacat, biaya ongkos kirim yang tinggi, hingga kesalahan pengiriman.
 
Pasar 250 juta jiwa, dengan 15–20% menyentuh internet, menjadikan Indonesiasebagai market yang sangat potensial. Namun di sisi lain, tidaklah mudah untuk mengembangkan bisnis di sini. Membangun kepercayaan menjadi modal penting dalam proses ekspansi ke jalur ini. Pasar yang besar, didukung dengan media promosi dan pemasaran produk yang tepat, serta menjadi penjual yang terpercaya, tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kesuksesan di dunia e-commerce.

Dari hasil survei yang dilakukan terhadap pengguna internet yang sering melakukan
transaksi online, sebanyak 40% pengguna lebih suka membuka situs yang
direkomendasikan oleh rekan atau teman.

5 Perilaku yang Membuat Seorang Sales Sukses

www.marketing.co.id - Menjadi seorang sales boleh dibilang gampang-gampang susah. Karena menjadi seorang sales, pastinya akan dituntut  untuk lebih aktif dan kreatif dalam memasarkan sebuah produk. Maka jangan heran kalau seorang sales pernah merasakan pasang dan surut dalam penjualan.

Perlu Anda ketahui, dunia marketing saat ini sangat dinamis dan penuh tantangan. Maka para salespun harus pintar-pintar mencari peluang dan menghasilkan omset penjualan yang cukup besar agar perusahaan itu tidak merugi.
Berikut  5 perilaku seorang sales jika mau menuai keberhasilan:

1. Berjiwa besar dan berani melawan kegagalan
Bagi seorang sales, kegagalan maupun penolakan dalam memasarkan sebuah produk sudah menjadi bumbu penyedap bagi kegiatan mereka setiap harinya. Maka dari itu, seorang sales dituntut untuk berjiwa besar dan jangan berkecil hati dalam menghadapi kegagalan.

Coba Anda pastikan selalu mengutamakan kepentingan konsumen  dan memberikan pelayanan prima kepada mereka. Sehingga mereka akan percaya terhadap apa yang Anda sampaikan.

2. Selalu jeli melihat pasar dan menciptakan sebuah peluang
Bisa dikatakan seorang sales harus punya insting yang tajam. Karena seorang sales harus selalu jeli dalam melihat pasar dan menciptakan peluang dalam berbagai kesempatan. Bagi seorang sales, pintu rumah yang tertutup saja bisa menghasilkan sebuah peluang. Peluang  itu bisa diraih bila Anda menyampaikan informasi pemasaran produk dengan startegi yang tepat.
Jadi, posisikan diri Anda sebagai teman dekat bagi konsumen dan penuhi kebutuhan yang mereka cari.

3. Biasakan diri Anda menjadi seorang pemenang
Ketatnya persaingan pasar dan besarnya resiko yang menghadang di depan mata, menuntut para sales untuk bisa bertahan sebagai pemenang. Maka biasakan pribadi Anda menjadi seorang juara, agar setiap hambatan maupun tantangan yang hadir di depan mata bisa Anda selesaikan dengan maksimal.

4. Perluas networking
Memang tak bisa dipungkiri bila networking menjadi salah satu modal atau aset berharga bagi seorang sales maupun pelaku pasar lainnya. Semakin luas jaringan bisnis yang akan Anda bangun, maka semakin besar pula peluang sukses yang telah Anda rencanakan di masa-masa mendatang.

Jadikanlah orang-orang yang ada disekitar Anda menjadi relasi bisnis potensial yang akan membantu Anda untuk mencapai puncak keberhasilan.

5. Selalu melakukan evaluasi secara rutin
Tingginya persaingan pasar dan besarnya resiko kegagalan yang sering menghantui para sales. Sehingga menuntut para sales untuk bisa melakukan perbaikan secara bertahap, baik itu mengevaluasi setiap tindakan maupun tingkah laku sales itu sendiri. Selain itu juga, para sales harus selalu mengevaluasi kesalahan-kesalahan dalam setiap proses penjualan sehingga menuju keperbaikan.

Yang perlu diingat bagi seorang sales, bahwa keberhasilan itu  tidak hanya bergantung dari kualitas produk yang mereka jual, namun keberhasilan tersebut juga tergantung dari kualitas skill dan pengetahuan individu yang memasarkan, yakni diri Anda sendiri. (BinisUKM)

Faktor Produksi Dalam Dunia Retail


Industri Ritel sekarang ini meliputi distribusi barang dan jasa kepada pelanggan, termasuk di dalamnya adalah makanan, mebel, peralatan elektronik, pakaian dan jasa. Kestabilan dan keberhasilan toko ritel bergantung pada penentuan dan pemanfaatan faktor-faktor produksi yang relevan.

Pengusaha
Pengusaha atau perusahaan adalah faktor produksi pertama yg penting dalam keberhasilan toko ritel. Dia harus mampu menentukan kestabilan bisnis dan mendapatkan serta mengorganisasikan faktor-faktor produksi lainnya.

Modal
Tak kalah pentingnya adalah faktor modal, bisa saja berupa uang namun bisa juga lainnya : gedung, peralatan elektronik, atau sumberdaya intelektualnya.
Pengusaha atau perusahaan harus bisa menentukan modal yang relevan yang diperlukan untuk bisnis tersebut.
 
Pekerja
Faktor pekerja juga turut berperan dalam memajukan bisnis ritel anda. Dapat kiranya dibagi dalam 3 golongan besar yaitu skilled, semi skilled atau unskilled labour.

Sumber Daya Alam
Tanah untuk lokasi usaha, atau bahan makanan untuk restoran, minyak untuk menjalankan mesin, dan sebagainya adalah SDA yang penting bagi proses produksi. Pengusaha harus mampu menemukan penyedia SDA ini. (sumber: ehow)

3 Kesalahan Sosial Media Yang Perlu Dihindari Oleh UKM atau SMB

Mau tidak mau, SMB atau UKM harus juga eksis di sosial media, karena prospek dan pelanggan di Indonesia juga makin banyak yang menghabiskan waktu di Sosial Media.

Coba bayangkan, berapa jam waktu yang digunakan oleh target market Anda untuk nonton TV dan dengar Radio? Berapa banyak waktu mereka melihat billboard, majalah, koran, atau media cetak lainnya? Kenyataannya prospek Anda  makin lama akan makin sering dan makin banyak yang memiliki akses ke media baru seperti Notebook, Netbook, Tablet, dan SmartPhone.

Oleh karena itu, SMB atau UKM sudah pasti harus memanfaatkan sosial media sebagai salah satu channel marketing yang berpengaruh besar terhadap bisnis, namun sering kali banyak pebisnis UKM sampai perusahaan Multinasional melakukan kesalahan Fatal ini:

1. Menggunakan Sosial Media seperti Offline Media
Banyak yang berpikir bahwa sosial media adalah memiliki Facebook, Twitter, YouTube, Google+, LinkedIn, Foursquare, dll, dan berusaha mendapatkan fans, teman, follower sebanyak-banyaknya. Kemudian, semua account tersebut digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan brosur.
Ini adalah mindset yang salah, karena Facebook, Twitter, YouTube, Google Plus, LinkedIn, Foursquare, Koprol, dll hanya tools sosial media yang bisa kita gunakan untuk mengimplementasikan strategi sosial media Anda. Kunci utamanya adalah membangun kedekatan, interaksi, dan engagement.

2. Maju tanpa Tujuan
Karena banyak yang memulai social media marketing karena ikut-ikutan , maka akhirnya banyak sekali pebisnis maju di sosial media marketing tanpa tujuan dan arah yang jelas. Tentu saja ini ini sangat berbahaya, seperti mengendarai mobil yang berkecepatan tinggi, tapi matanya tertutup.

3. Tidak Mengukur Hasilnya
Sosial media juga sama seperti media marketing lainnya, yaitu harus selalu diukur dan dimonitor apakah efektif membantu meningkatkan jumlah pelanggan kepada bisnis. Apakah efektif menjangkau lebih banyak target market? Apakah efektif menekan biaya promosi? dan lain lain
Tanpa mengukur, kita tidak akan tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Oleh karena itu, untuk Anda yang ingin menggunakan sosial media untuk bisnis, lakukanlah 3 hal berikut:
  1. Pikirkan dulu Tujuan dari Sosial Media Marketing ini
  2. Susun strategi untuk mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan berbagai tools sosial media yang ada (sesuaikan dengan target market Anda)
  3. Monitor dan ukurlah efektivitas dari campaign sosial media tersebut
(Sumber: emcoach.com)